Melepas Untuk Menerima

Setiap hari akan selalu ada orang yang tersakiti, sekecil apapun itu. Entah itu fisiknya, mentalnya, ataupun perasaannya. Pun apakah itu karena keluarganya, temannya, saudaranya, atau bahkan kekasihnya. Setiap sakit pasti akan meninggalkan luka yang membekas. Namanya bekas atau jejak sudah pasti tak akan bisa menghilang dan kembali sebagaimana semula.  Hanya saja kita sebagai makhluk Tuhan paling sempurna dengan anugerah akal yang bersarang dalam otak kita maka haruslah pintar pintar memutar cara agar bagaimana bisa menutup bekas itu hingga kembali  indah layaknya semula.

Seindah bahagia, maka sakitpun hadir sebagai penyeimbangnya.

Kita telah mengenal satu pelajaran ketika SD dulu bahwa di alam semesta ini selalu terjadi hubungan timbal balik antara satu hal dengan hal lainnya. Mereka menyebutnya hukum alam. Dimana hukum alam selalu terjadi konstan, tidak berlebih. Berjalan seimbang sesuai dengan takarannya masing masing. Berdasarkan teori tersebut, dapat diilhami bahwa tak ada yang abadi di dunia fana ini. Jika hari ini kemarau maka pastilah besok hujan, jika hari ini terjadi badai maka esok pun akan muncul mentari. Pun jika hari ini luka telah menggores labirin jiwa kita, jangan khawatir, esok pelangi sejuta cinta itu akan hadir mewarnai nafas kehidupan kita.

Percayalah, akan selalu ada hikmah dibalik setiap luka yang terkemah.

Bukankah Allah telah mengajarkan pada kita melalui proses alam-Nya ? Bahwa dibalik penciptaan badai, Allah telah menyiapkan sebuah pelangi yang tersembunyi , hingga saatnya tiba ia akan lahir mewarnai langit dengan segala corak keindahannya.

Untuk itulah, disaat kita sedang didera duka, dilanda sedih ataupun digurat luka tak perlulah bersedih terlalu dalam. Lepaskanlah .. apapun yang ketika itu sedang menjeratmu dalam luka yang sangat, lepaskan seikhlas-ikhlasnya .. biarkanlah alam yang akan mengembalikannya kelak pada saatnya. Mungkin kita akan membenci proses ini. Melepas tak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu sulit, begitu sakit. Namun percayalah, apa yang sedang berusaha kita lepas detik itu adalah apa yang akan kita terima suatu hari nanti, bahkan mungkin lebih.

Melepaslah .. dan bersiaplah untuk menerima .

Iklan

Mencintaimu, adalah Surga

“ Eh Mi, si ***** udah melepas status jomblonya lhoo  “ , bunyi pesan yang kubaca dari sosmed LINE-ku. Seuntai pesan dari sahabat SMA dulu, yang kini juga sedang berjuang di tanah kelahiran, menuntut ilmu.

“ Oh yaa ? Alhamdulillaah .. sejak kapan ? “ Tanyaku melepas kekagetan.

“ Liat deh wall Facebooknya , ada yang lain dari yang lain. Bikin penasaran. Kalau pean mau kepo sihh .. “ , Ulasnya menggebu.

“ Masa sih ? Pantesan kapan hari yang lalu dia minta doa supaya segera diturunkan bidadari yang dinantinya. Akhirnyaa ..  “ , aku menanggapi dengan sesantai mungkin.

Nggak penasaran , Mi ? “, tanyanya dengan intonasi suara melebihi 20.000 Hz, yang sayangnya sekejap hilang ditelan huruf-huruf tertera  pada layar handphone-ku.

“ Kenapa harus penasaran ? Ada yang lebih menggelitik jiwa untuk diperhatikan jauh lebih dari sekedar tentang dia. Yang setiap saat ingin disentuh, ingin dicinta. Tanpa sekalipun terduakan. “ jawabku dengan senyum kemenangan.

“ Wah wah , Gitu yaa .. sekarang udah nggak mau cerita.Siapa nih siapa ? “ , Kepo si Mbul. Mbul, panggilan kesayangan yang kuberi untuk sahabatku sejak di bangku SMA ini. Baca lebih lanjut

Muharram ..

Muharram ..

Pagi ini kau menyapa waktu dengan begitu anggun. Salam rindumu lewat rintik hujan yang turun dengan tenang, menjadikan pagi ini begitu berbeda. Pagi ini , waktu berganti. Setelah seribu detik terjamu demi sebuah penantian agung.

Penantian ? Ya. Merelakan segenap waktu tersapu rindu dan harapan. Membiarkan hati mendayu rayu pada Sang Pemilik Waktu. Walau masih saja tanpa adanya jawaban. Pun kepastian.

Mungkin inilah hijrah yang kau maknakan pada bilah waktu selama ini. Atas nama baru yang kau sandang di setiap pergantiannya. Tidak, bukan pergantian. Kau hanya melepaskan jubah lamamu , dan kembali bersama pancaran sinar baru yang menerangi penggal waktumu yang tersisa selanjutnya.

Sepertimu, aku pun harus melakukannya. Sekarang.

Inilah waktunya. Sudah saatnya aku mengalah. Mengalah, bukan kalah. Mengalah pada apa yang bukan seharusnya ku letakkan dalam rindunya hati. Mengalah pada apa yang bahkan sebersitpun ku tak pernah tahu jawaban atas satu pertanyaan yang menggantung, Diakah Ya Allah?

Ahlan Wasahlan Ya Muharram ..

Selamat berjuang hati yang baru , niat yang baru , dan harapan yang baru 🙂

Bismillahitawakkaltu ‘alallah …

” Ketika kau sudah melepaskan seluruh keinginanmu..dan menyerahkan pada Tuhan…maka saat itulah seluruh pintu akan terbuka untukmu. “