Ya, Kau Memang Mencintainya

17060-jika-saat-ini-anda-sibuk-mencari-yang-sempurna-tp-sadarilah

Bismillahirrahmanirrahim ..

Terkadang kita akan merasa kehilangan saat ia sudah tak disisi kita lagi . Dan sadar bahwa sesungguhnya kita mencintainya ketika ia telah pergi ..

Sebagai manusia, adalah wajar ketika kita menginginkan yang lebih. Lebih dan lebih. Rasa syukur yang goyah menjadikan kita seakan merasa selalu kekurangan, tidak puas dengan apa yang telah kita miliki selama ini. Dengan mudahnya kita terus meminta, dan melalaikan anugerah terbaik yang telah tercipta.

Cinta, salah satunya.

Adalah lumrah ketika kita memiliki sosok pasangan yang sempurna dalam hidup. Karakter, tipe, ataupun syarat tertentu sudah pasti menjadi prioritas utama saat kita memilih pasangan. Akan tetapi tidak semua keinginan selalu berakhir dengan kenyataan. Terkadang apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan keinginan hati, bahkan bisa jadi sangat bertolak belakang dengan segala bentuk doa yang telah kita deklarasikan pada Tuhan selama ini.

Inilah yang menjadikan kita terlalu takabur untuk mensyukuri anugerah yang telah Tuhan hadirkan untuk kita. Dia yang sejatinya selalu memperhatikan setiap detail terkecil kebutuhan kita. Dia yang setia menjadi telinga bagi setiap keluh kesah panjang kita. Dia yang hanya tersenyum saat kita marah-marah tak jelas karena badmood padanya. Dia yang hanya berkata “ Nggak papa, kamu nggak salah kok “ saat kita mengucap maaf atas kesalahan sama yang telah berulang kali kita perbuat. Dia yang setiap kali kita menyerah dan berucap “ Maaf, aku tak pantas untukmu “, selalu menjawab dengan penuh kasih “ kau adalah anugerah terindah dari-Nya “. Juga dia yang pada akhirnya tak pernah jemu menerima segala ketidaksempurnaan kita dengan sepenuh kasih dan cinta..

Tapi apa? Kita mengabaikannya.

Ya. Kita terlalu fokus pada keinginan kita yang bahkan tak sedetikpun merayu bahagia untuk kita miliki, tanpa menyadari bahwa dia yang selalu ada di sisi kita adalah doa kita. Kebutuhan kita. Terbaik dan terindah bagi hidup kita.

Pada akhirnya, ketika dengan mudahnya kita melepas, saat dia dengan rela pergi demi satu kebahagiaan kita, dan kala tak ada lagi yang selalu mengiringi hari-hari kita dengan senyum terkasih, maka ketika itulah kita menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang. Saat itulah kita tahu betapa bodohnya kita telah menyia-nyiakan satu hal yang bahkan tanpa kita minta pun dia rela menyerahkan hati dan segala cinta demi satu tujuan, membuat kita bahagia.

Maka dengan segala kasih kuhaturkan, berbahagialah kau yang hingga detik ini masih bersama dia yang tak pernah jemu menabur bahagia dalam hidupmu. Pandanglah dia, tatap matanya dengan lembut. Tanyakan pada hati, cukup kuatkah kau jika senyuman yang kini mengembang di wajahnya tak lagi dapat kau temui setelah ini? Jika hatimu berat, maka jelaslah sudah, dia yang sesungguhnya kau butuhkan dalam hidup.

Ya, kau memang mencintainya ..

Iklan

BTCQ menuju Insan Qur’ani, Keluarga Illahi Rabbi :)

1526717_571825779569054_228460968_n

Bismillahirrahmanirrahim . .

Terhitung sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu, aku bersama mereka berada disini. Di penjara suci yang akan mengantarkan kami menuju impian paling suci dalam hidup kami. Insan Qur’ani , keluarga Illahi Rabbi. Dimana itu? Disini, di Bayt At-Tahfidz Wal Qiro’ah Cahaya Qur’ani atau yang sering kami sebut dengan nama BTCQ.

BTCQ resmi terbentuk pada tanggal 1 Januari 2014 lalu, dengan pengasuh tunggal Almukarrom Ustadz Dr. Ahmad Syafaat, S,Ag , M,Ag. Selain menjadi Mudir BTCQ, beliau adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang. Perjalanan hidup yang luar biasa telah mengantarkan beliau menjadi sosok luar biasa pula. Al-Qur’an yang telah menjadi nafas hidup beliau selama ini, semakin menguatkan azzam beliau untuk melahirkan para generasi qur’ani yang sejati, maka lahirlah BTCQ ini. Sebagai efek dari lahirnya BTCQ, diluar sana ratusan insan ingin melabuhkan mimpi di BTCQ, dan Alhamdulillah Allah memilih kami diantara mereka, para pejuang Qur’ani. Baca lebih lanjut