Anak Sulung, ย Sahabat Untuk Adik Adiknya

Kata orang Jawa, anak mbarep itu harus bisa jadi panutan untuk adek adeknya, harus baik, harus pintar, harus sukses, harus berhasil perjalanannya ๐Ÿ™‚

Tapi bagi saya tidak.
Sebagai anak ‘mbarep‘,  saya ingin menjadi ‘sahabat‘ untuk adik adik saya kelak.

Tempat bercurah hati, bersandar, dan pangkuan kasih sayang.

Sulit? Mungkin butuh proses.

Mengingat karakter diantara kami sangatlah berbeda ๐Ÿ˜

Saya, selaku anak Sulung, perempuan. Dari kecil dididik untuk selalu rajin sekolah, belajar dan berprestasi. Alhasil, sekarang jadinya agak ‘bosen‘ sama belajar wkwk, buktinya sarjana bahasa Arab jadi Bisniswoman *ra nyambung ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Adik pertama, Wildan namanya. Satu satunya laki laki diantara kami ( yaiyalah, lha wong anaknya cuma 3 ) ๐Ÿ˜‚ dia tipe anak yg nggak mau dikekang dan dibebani aturan yg mengikat. Just for happy. Cuek bebek. Suka mbantah dan selalu usil. Tapi akhir akhir ini saya sering menemui bahwa dia orang yg jujur. Setiap dimintain tolong beli apapun, sisa uang berapapun selalu kembali, meski pada akhirnya nanti dirayu untuk diminta ๐Ÿ˜…

Adik kedua, Sabil namanya ๐Ÿ™‚ bisa dilihat kan cengirannya ditengah itu? ๐Ÿ˜‚ entah kenapa, sejak kecil, sejak dia lahir, dia seperti anak saya sendiri ๐Ÿ˜˜ nah iyaaa, dia lahir setelah saya sudah nikah ๐Ÿ˜

Sabil tipe anak yg penyayang :)) suka mengalah dan supel. Sehingga tidak ‘nggumun‘ kalau orang sekampung pada rebutan bawa dia kesana kemari.

Aahh..

Berbicara mengenai ini rasa rasanya tak kunjung usai.

Pada intinya, saya tidak ingin dianggap sebagai ‘panutan‘, atau justru saingan. Saya hanya ingin menjadi sahabat terbaik untuk adik adik saya kelak. Apapun dan bagaimanapun keadaannya.

Salam, 

Vinda Nafila

#OneDayOnePost #ODOP #Day1#BloggerMuslimah #KumpulanEmakBlogger #BloggerIndonesia