Aku memanggilnya, Gus..

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Kali ini aku akan bercerita tentang seseorang. Yang kehadirannya telah berkontribusi banyak dalam perjalanan hijrahku menuju titik dimana aku berdiri sekarang ini. Siapa dia ?

Aku memanggilnya, Gus.

Dia bukan putra seorang Kyai. Dia juga bukan pengasuh sebuah pesantren. Dia hanya senior sebuah organisasi di kampusku, Ha’iah Tahfidz Al-Qur’an ( HTQ ), Gus dan Ning adalah panggilan khusus bagi seluruh anggota HTQ. Pertama kali aku mengenalnya ketika mengikuti Ta’aruf Qur’ani ( TQ ). TQ ini semacam diklat dan pengenalan bagi para calon anggota baru yang dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut, lalu di akhiri dengan sumpah dan pelantikan anggota baru HTQ.

Salah satu agenda dalam acara TQ adalah motivasi. Motivasi kali ini bertemakan ‘ from zero to hero : 30 juz dalam waktu 3 tahun’. Ketika MC memanggilnya maju ke depan sebagai pembicara utama dalam acara tersebut. Maka saat itulah pertama kalinya aku menatap wajahnya.

Dan dia mulai berkisah mengapa ia diminta berbicara di depan ketika itu .. Baca lebih lanjut

Iklan

BTCQ menuju Insan Qur’ani, Keluarga Illahi Rabbi :)

1526717_571825779569054_228460968_n

Bismillahirrahmanirrahim . .

Terhitung sejak kurang lebih 4 bulan yang lalu, aku bersama mereka berada disini. Di penjara suci yang akan mengantarkan kami menuju impian paling suci dalam hidup kami. Insan Qur’ani , keluarga Illahi Rabbi. Dimana itu? Disini, di Bayt At-Tahfidz Wal Qiro’ah Cahaya Qur’ani atau yang sering kami sebut dengan nama BTCQ.

BTCQ resmi terbentuk pada tanggal 1 Januari 2014 lalu, dengan pengasuh tunggal Almukarrom Ustadz Dr. Ahmad Syafaat, S,Ag , M,Ag. Selain menjadi Mudir BTCQ, beliau adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang. Perjalanan hidup yang luar biasa telah mengantarkan beliau menjadi sosok luar biasa pula. Al-Qur’an yang telah menjadi nafas hidup beliau selama ini, semakin menguatkan azzam beliau untuk melahirkan para generasi qur’ani yang sejati, maka lahirlah BTCQ ini. Sebagai efek dari lahirnya BTCQ, diluar sana ratusan insan ingin melabuhkan mimpi di BTCQ, dan Alhamdulillah Allah memilih kami diantara mereka, para pejuang Qur’ani. Baca lebih lanjut

My New Family ^^

Bismillahirrahmanirrahim..

Keluarga adalah satu karya terbesar alam raya. Satu-satunya batu yang masih kokoh dan tetap berfungsi. Kompas yang akan menuntun arah kita saat goyah. Tempat terindah untuk menghabiskan waktu bersama.

Yap ! Aku memiliki keluarga baru. Bidadari-bidadari jelita yang Allah turunkan sebagai penuntun perjuanganku. Penyemangat jiwaku. Dan penyejuk hatiku.

Impian suci telah mempertemukan kami. Perjuangan yang tidak mudah harus kami jalani bersama. Tirakat, begitu kata mereka. Ah.. bersama kalian, kuyakin impian itu tak akan lagi berat, namun semakin indah untuk ku kejar. Tidak, ini bukan kebetulan. Allah telah merancang skenario ini. Bahwa aku, kalian, dan kita akan menjadi satu keluarga. Keluarga-Nya di bumi ini, hingga di surga nanti. Aamiin Ya Rabb 🙂

2013-12-15 12.24.22

Detik detik menanti Januari yang terkasih.
Ahlan Wasahlan Yaa Ikhwaty AlMahbubah :*

Mencintaimu, adalah Surga

“ Eh Mi, si ***** udah melepas status jomblonya lhoo  “ , bunyi pesan yang kubaca dari sosmed LINE-ku. Seuntai pesan dari sahabat SMA dulu, yang kini juga sedang berjuang di tanah kelahiran, menuntut ilmu.

“ Oh yaa ? Alhamdulillaah .. sejak kapan ? “ Tanyaku melepas kekagetan.

“ Liat deh wall Facebooknya , ada yang lain dari yang lain. Bikin penasaran. Kalau pean mau kepo sihh .. “ , Ulasnya menggebu.

“ Masa sih ? Pantesan kapan hari yang lalu dia minta doa supaya segera diturunkan bidadari yang dinantinya. Akhirnyaa ..  “ , aku menanggapi dengan sesantai mungkin.

Nggak penasaran , Mi ? “, tanyanya dengan intonasi suara melebihi 20.000 Hz, yang sayangnya sekejap hilang ditelan huruf-huruf tertera  pada layar handphone-ku.

“ Kenapa harus penasaran ? Ada yang lebih menggelitik jiwa untuk diperhatikan jauh lebih dari sekedar tentang dia. Yang setiap saat ingin disentuh, ingin dicinta. Tanpa sekalipun terduakan. “ jawabku dengan senyum kemenangan.

“ Wah wah , Gitu yaa .. sekarang udah nggak mau cerita.Siapa nih siapa ? “ , Kepo si Mbul. Mbul, panggilan kesayangan yang kuberi untuk sahabatku sejak di bangku SMA ini. Baca lebih lanjut

Cahayamu , Cahaya Cinta-Nya

Kau begitu erat mendekapnya dalam hatimu..

Lembar demi lembar kau sentuh dirinya dengan sepenuh kasih..

Sepenuh hati ..

Tak ada yang lain. Hanya dia. Dia. Dan dia.

Dia yang tak pernah sedetikpun lengah dari fikiranmu ..

Dia yang tak sejengkalpun kau izinkan bergeser dari hatimu ..

Dan dia yang tak pernah sekalipun tersia dari setiap desah nafasmu ..

Dan malam ini, lagi lagi kau datang dengan cahaya itu ..

Cahaya , yang masih sama kulihat satu tahun yang lalu

Cahaya terang yang menyinari cahaya lainnya ..

Cahaya .. yang aku sadari telah membuatku berani bertahan sejauh ini ..

Bertahan demi apa yang kuanggap adalah sebuah kebaikan ..

Bukankah segala bentuk jalan kebaikan itu datangnya hanya dari Dia Yang Maha Penerang Jalan?

Ya. Aku pun percaya, kau datang dalam kehidupanku hanyalah karena-Nya ..

Karena skenario-Nya ..

Skenario yang sungguh sungguh indah ..

Skenario yang kini membuatku banyak belajar .. banyak mengerti .. pun memahami makna sebuah rasa ..

Rasa yang ketika engkau menjatuhkannya pada sebuah hati ,

Maka ia akan membimbingmu menjadi lebih dekat pada-Nya .

Yang akan menuntunmu untuk semakin mencintai-Nya..

Dan akan menjadikan hidupmu lebih damai ..

Serta hatimu menjadi lebih bijak ..

Aku merasakannya. Sungguh sungguh merasakannya dengan baik.

Disini. Dimana rasaku berkata bahwa mencintai lembar demi lembar yang juga kau cintai itu sungguh sangatlah indah ..

Walau hanya dalam diam. Meski hanya dalam untaian doa yang tak pernah jengah terpanjatkan ..

Entah sampai kapan..

Namun aku percaya, akan tiba masanya dimana janji-Nya akan hadir ..

Janji yang akan menjawab setiap detik yang telah merekam erat memori rasa dan perjuangan yang telah terlewati  ..

Janji , yang kuyakin pada akhirnya akan menyatukan koma menjadi satu titik.

 

Sabtu , 28 September 2013

02.30 WIB

– Vinda Nafilah –

Motivasi Menghafal Al-Qur’an

Bismillahirrahmanirrahim ..

خيركم من تعلم القرآن و علمه ( رواه البخاري )

 Sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkanya HR. Bukhari

Belajar dan menghafal Al-Qur’an selama ini identik dengan aktifitas para santri yang sedang bergelut dengan ilmu ilmu keislamaman di pondok pesantren, sedangkan mahasiswa lebih sering dikaitkan dengan ilmu ilmu dan teknologi modern. Mungkin terbilang langka mahasiswa hafal Al-Qur’an. Padahal jika mau berkaca pada sejarah ilmuan-ilmuan muslim yang begitu fenomenal dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka rata – rata hafal dan menguasai Al-Qur’an.

Apa rahasianya ?

Ternyata pada saat itu ada sebuah tradisi kuat yang beranggapan  bahwa belajar Al-Qur’an itu adalah “ harga mati “ , dimana belajar Al-Qur’an sebelum belajar ilmu yang lain adalah harga yang tak boleh ditawar alias wajib. Bahkan para penulis kita saat ini berkata melalui penelitiannya bahwa sejumlah mahasiswa yang hafal Al-Qur’an memiliki tingkat kecerdasan dan kreatifitas yang lebih dibanding yang lainnya. Hal ini dibuktikan oleh keluarga Bapak Mutamimmul Ula , yang mana kesepuluh putra putrinya yang sedang menghafal Al-Qur’an itu rata-rata menjadi pelajar dan mahasiswa terbaik di sekolah mereka masing-masing.

Bicara mengenai mahasiswa, bisa dibilang usianya berkisar 18-24 tahun. Pada saat inilah otak, semangat, dan kesempatan seorang pemuda berada dalam masa keemasan. Masa ini adalah masa yang subur dan produktif untuk mencari ilmu, termasuk menghafal Al-Qur’an. Jika pada masa ini para pemuda memanfaatkan waktu dengan cara menanam benih benih ilmu dan ibadah, maka kemungkinan besar 10 atau 15 tahun kemudian ia akan menuai kesuksesannya sesuai dengan butir butir peluh yang telah ia korbankan.

Seharusnya, kita sebagai pemuda masa kini yang banyak dikelilingi ilmu dan teknologi super canggih nan modern, lebih bersyukur lagi terhadap anugerah Allah yang telah dicurahkan dalam tiap jengkal tubuh kita. Allah memberikan anugerah pada hamba-Nya sesuai takaran takdir yang dibarengi dengan ikhtiar maksimal. Ketahuilah, bahwa tidak semua orang bisa membaca Al-Qur’an, baik dari kalangan mahasiswa maupun non-mahasiswa. Untuk itu kita yang diberikan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan lancar hendaklah memperbanyak mempelajarinya lebih dalam lagi, yang mana semua itu akan menjurus pada jenjang menghafalnya.

Kalian tahu? Betapa banyak orang yang merindukan menjadi penghafal Al-qur’an. Mungkin mereka sudah pernah mencoba namun gagal atau mungkin kesibukannya yang menggunung sehingga tak berkesempatan untuk menghafal. Jadi, kalau hari ini kalian menghafal, berarti kalian telah melakukan sesuatu yang banyak dirindukan orang lain. Kalau mereka baru bermimpi, kalian sudah melakukannya, berbahagialah !

Jika saat ini anda memiliki niat untuk mulai memperdalam Al-Qur’an, serta menghafalnya, segeralah realisasikan. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Pelan-pelan namun istiqomah. Ibarat biji tanaman setelah ditancapkan ke dalam tanah ia harus kontinyu disiram dan dipupuk sampai tumbuh dan berkembang subur lalu berbuah.

Lihatlah di sekitar kita, tidakkah kita malu pada Abdurrahman Farih dari Al-Jazair yang membaca Al-Qur’an bil ghaib dalam usia 3 tahun? atau mungkin pada generasi generasi kecil Indonesia yang nyata-nyata kita saksikan dalam acara Hafidz Indonesia? Patutlah mereka menjadi cambuk bagi kita semua. Kapan lagi memulai, jangan pernah menunda niat suci. Bisa jadi niat yang pelaksanaannya tertunda akan menguap dan sirna selamanya.

Sekarang, tanyakan pada diri kita sendiri, tidakkah kita ingin membahagiakan orang yang selama ini rela menderita  untuk kita? Yang seluruh jiwa raganya dikorbankan hanya untuk kebahagiaan hidup kita ? Dialah ayah ibu kita. Dengan menghafal Al-Qur’an kita bisa memanjakan orang tua supaya mereka bangga dan terhibur. Setidaknya, dalam bayangan mereka, ketika mendengar anaknya hafal Al-Qur’an, kelak pahala baca Al-Qur’an dari anak tak akan pernah putus dan akan senantiasa menerangi kubur mereka dengan cahaya Al-Qur’an. Begitu indahnya bukan jika kubur orang tua kita nanti selalu bersinar lantaran Al-Qur’an yang selalu kit baca ?

Dan kita, sebagai pemuda, calon suami dan istri, pastilah mendambakan seorang pendamping yang lidahnya selalu basah dengan Al-Qur’an. Begitu indah rasanya apabila dalam keluarga , ada gema lantunan ayat suci Al-Qur’an yang tak pernah putus. Sehingga anak-anak kita pun akan terbiasa dengan lantunan Ayat Al-Qur’an , yang mana itu semakin memudahkan mereka dalam menghafal Al-Qur’an. Ingin memiliki keluarga Qur’ani bukan ? Sungguh, betapa sejuknya hati bila Al-Qur’an menghiasi setiap kegiatan dalam keseharian kita. Jadi awali dari diri sendiri , kalau kita mendambakan sebuah keluarga “Qur’ani”.

Yakinlah, bahwa Al-Qur’an akan menolong kita selama kita juga menolong AlQur’an. Mulailah dari nol, karena ia pengganda setiap bilangan. Mulailah dari niat, karena ia menjadi penentu setiap sukses. Mimpikan kebaikan agar menjadi kenyataan, serta nyatakan kebaikan agar jadi mimpi indah !

Alfannajaah lek Ya Ahlal Qur’an , Ya Ahlallah , Ya Ahlal Jannah 🙂