Air Mata Di Batas Senja

Bismillahirrahmanirrahim ..

Sebelumnya, ini bukan cerpenku. Ini karya orang lain. Siapa dia? Brili Agung Zaky Pradika. Seorang penulis hebat dan inspirator muda Indonesia, dengan dua buah buku best seller yang telah dilahirkannya. Kenapa harus aku post di blog-ku? Apa hubungannya denganku ?

Karena satu kalimat dariku, menjadi alasan cerpen ini lahir. Hehe *nggak sombong, riya’ qolil 😀

Ceritanya, pagi itu aku lagi twitter-an. Eh .. tiba tiba di TL-ku ada Kak Brili pasang pengumuman , kira kira begini isinya “ Tulis 1 kalimat yang ada dipikiranmu saat ini, apapun itu. Apapun. Mention kesini. Dalam 30 menit kedepan akan dipilih 3 kalimat terbaik, yang akan masuk dalam cerpenku. Yuk, sekarang ! “. Dengan asal asalan ku mention aja 3 kalimat yang menurutku nggak jelek jelek amat. Tiga sekaligus euy 😀 Ternyata eh ternyata, setelah kurang lebih 2 jam kemudian, aku di mention balik sama Kak Brili.

“ Akhirnya selesai juga cerpennya ! Butuh memeras otak lebih dari biasanya , gara gara 3 kalimat dari @vindanafilah @rizkamamalia @indaahrs “

Wahh.. Alhamdulillah, kalimat asal asalanku masuk . Entah kenapa, dari itu semangat nulisku kembali hidup. Aku juga ingin seperti Kak Brili, yang selalu menginspirasi orang lain, melalui karya karya hebatnya. Thank’s Kak Bril ^^

Mau tau cerpennya? Yuk, simak. Ini dicopas langsung dari blog Kak Brili.

Sumber : http://briliagung.wordpress.com/2013/07/31/tangis-di-batas-senja/

Air Mata Di Batas Senja

Yap! Sama seperti postinganku sebelumnya yang berjudul Lelaki Yang Memeluk Pagi, cerpen ini juga dipersembahkan oleh keisenganku memancing teman-teman di twitter buat urunan kalimat dan kemudian aku rangkai menjadi sebuah cerita baru.

Ini kalimatnya:

seharusnya kamu sadar, bahwa dengan adanya perpisahan, setiap helai hatimu menjadi lebih indah dari sebelumnya @vindanafilah

cinta tidak pernah membuatmu takut menunjukkan siapa dirimu sebenarnya @rizkamamalia

Daun yang gugur pun atas kehendak-Nya @indaahrs

Lalu seperti apa jadinya? Lets cekidot :

Di atas jutaan butir pasir lembut berwarna putih pucat itu, terekam ratusan jejak Laras. Larasati Kirana begitu orang tuanya menamainya. Rambutnya yang menawan terburai, terseok disapa angin laut senja. Matanya hitamnya sangat kontras dengan kulitnya yang berkilau serupa kapas. Laras berhenti melangkah, matanya terpaku pada sang surya yang terlihat semakin melemah di saat malam kan membunuh perlahan.

Kakinya gemetar, mungkin ia tak lagi sanggup untuk menahan semua beban yang serentak meluluhlantakkannya hari itu. Kepalanya mendongak mencoba menemukan sebuah wajah di tengah awan yang berarak. Sayangnya ia tak mampu menemukan wajah yang begitu ia cintai disana. Kawanan buih ombak takut-takut mulai menyapa kulit lembut kaki laras. Tapi gadis itu tetap tak beranjak. Air laut yang mengenai mata kakinya justru memancing deburan ombak yang lebih kencang di pelupuk matanya.

Laras menatap lekat cakrawala di ujung garis samudra. Dia begitu berharap Neptunus akan muncul dan menyapanya, mengobrol dengannya, dan membawa serta kesedihannya ke dalam palung lautan terdalam di jagat Raya.

“Wahaai cantik, apa yang memuatmu gundah gulana?” Neptunus tersenyum lembut menyapanya.

“Tidak apa. Aku hanya sedang kehilangan. Wajar kan kalo aku sedih?” Tanpa senyuman Laras menjawab.

“Nampaknya kau begitu mencintai apa yang hilang dari dirimu..” Neptunus menyimpulkan.

Tanpa ada komando, lagi-lagi awan hitam menjelma hujan deras di mata Laras dan bergegas meliuk-liuk di sepanjang pipi.

“Apa aku salah begitu mencintainya Nep? Ku serahkan hatiku semua untuknya, dan sekarang saat ia pergi aku begitu kehilangannya! “ Laras setengah menjerit tanpa peduli air mata menerobos ke rongga mulutnya.

“Laras, semua yang datang pasti memiliki saat dimana ia kan pergi.. Semua sudah tertulis di helaian-helaian takdirNya. Daun yang gugur pun atas kehendak-Nya , kau tau itu..” Neptunus memandang lekat-lekat wajah Laras.

“Apakah kau tau Nep, mengapa aku begitu mencintainya? Karena…Karena.. hanya saat bersamanya aku tak takut untuk menunjukan siapa diriku. Aku merasa bebas dari tuntutan orang-orang kepadaku. Aku menjadi diriku seutuhnya..” Lirih dan sedikit terbata Laras bicara.

“Ya, itulah cinta Laras.. cinta tidak pernah membuatmu takut menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.. Jika mengatasnamakan cinta engkau berubah menjadi orang lain, itu dusta namanya. Tidak ada pengekangan dan pemaksaan dalam cinta. Engkau nyaman menunjukan siapa dirimu di depan cinta mu..” Tangan lembut Neptunus membelai rambut panjang Laras. Ah dia pasti cuma sampo, batin Neptunus.

“Tapi…Tapi mengapa harus ada pertemuan jika ditakdirkan ada perpisahan Nep! Sungguh tak adil rasanya, Cinta yang sudah terbangun dengan susah payah harus terempas begitu saja! Aku benci perpisahan…” Setengah memaki Laras menenggelamkan wajahnya di kedua tangkup telapaknya.

“Pertemuan dan perpisahan itu bagaikan siang dan malam Laras. Bagaikan matahari dan rembulan. Berpasangan tanpa harus saling membenci satu sama lainnya. Walaupun matahari digantikan rembulan, ia tak pernah membencinya. Perpisahan adalah sebuah awal pertemuan yang baru. Selalu seperti itu. Seharusnya kamu sadar, bahwa dengan adanya perpisahan, setiap helai hatimu menjadi lebih indah dari sebelumnya.” Neptunus tak menyerah untuk membangkitkan Laras dari keterpurukannya.

Laras mendongakan wajahnya, menyapu bersih semua sisa tangisannya dan berusaha keras mengukirkan senyuman terbaiknya. Ia sekarang sadar bahwa hanyalah kekonyolan jika ia terus terjebak dalam luka lama yang tak tentu kemana arahnya. Seperti kata neptunus, bahwa tiap perpisahan adalah awal dari pertemuan yang baru.

“Terima Kasih Nep.. Walaupun engkau hanya hidup di pikiranku.. Tapi karenamu sekarang aku bisa melangkah maju.”

Tangan mungil laras meraba-raba ke dalam tas merah jambu nya. Menarik sebuah foto yang sudah kumal diterpa entah berapa tetes air mata.

“Jojo, semoga sekarang kamu sudah tenang di Surga.. Siapapun nanti yang menggantikan posisimu di hatiku, selalu ada tempat untuk mu buatku. Maafkan aku kalo selama ini air mataku justru membuatmu tidak tenang meninggalkan dunia. Aku tak menyesali lagi kepergianmu..” Laras mengecup foto itu dan memasukan kembali ke dalam tas merah jambu nya. Ia kini bergegas mencari tambatan hati barunya. Mmm… Kali ini mungkin dari ras siam. Walaupun sebenarnya ras Jojo si kucing persia begitu indah dipandang mata.

– The End –